Rabu, 30 Juni 2010

Ibu Kosku yang.....


Sudah sebulan penuh aku nge-kos disini dan semakin hari semakin banyak yg kusuka. Selain sesama penghuni yg semuanya lelaki dgn berbagai keunikan, juga kehadiran ibu kos yg begitu membuatku tertegun. Sebenarnya dia tidak cantik, tapi wajahnya tidak pernah membuatku bosan, manis, mungkin itu istilah yg banyak dipergunakan orang. Tubuhnya, sempurna. Tidak semampai, tidak juga kecil, dgn kulit putih bersih dan senyuman anggun.Aku tahu, pak Sam suaminya, seorang dosen bertitel S2 itu, sudah sakit-sakitan. Usianya mungkin berkisar 40, tapi kalian tak akan percaya bila kukatakan dia terlihat sangat tua. Konon, selama menempuh studi di Amerika, dia terserang semacam TBC, atau bisa jadi TBC, karena terlalu sering mendekam di kamar. Dan aku tidak yakin bila beliau masih sering menjamah ibu Sam, isterinya.

Rumah kos ini berbentuk huruf T, bagian horizontalnya dihuni mahasiswa termasuk aku meskipun aku bukan mahasiswa, dan vertikalnya merupakan kediaman pak Sam, isterinya yg kerap membuatku jantungan, dan 2 anak mereka, Edo dan Ridho.
Begitulah, kebetulan jendela kamarku menghadap area jemuran. Tiap pagi aku bisa menyaksikan ibu Sam menjemur pakaian. Bila posisinya berbalik, maka aku bisa menikmati pantatnya yg aduhai, bila posisinya kebetulan menghadapku, maka belahan dadanya akan selalu terpampang bila dia menunduk mengambil potongan pakaian untuk dijejerkan di tali itu.
Mulanya aku menyaksikan semua itu dengan mengintip, karena saat itu aku masih merasa malu jika kemudian ketahuan. Namun selanjutnya, aku malah menyisihkan kain gordyn sehingga aku akan kelihatan jelas berdiri di balik kaca meskipun tidak transparan, kaca panjang itu berwarna hitam.
Hingga pagi itu, ibu Sam kembali ‘beraksi’ dgn dasternya yg berleher rendah. Aku tak lagi bisa menahan kesopanan untuk menyaksikan pemandangan berharga demikian. Kuturunkan celanaku, dan mengeluarkan penis yg sedari tadi sudah menegang. Aku membelai-belainya lembut sambil mataku tajam memelototi belahan dada bu Sam yg menggoda. Dalam bayanganku, dua benda montok menggemaskan itu sedang kujilati dan kuremas-remas perlahan. Hingga tak terasa tanganku tak lagi membelai, melainkan mulai mengocok-ngocok penisku kencang.
Tiba-tiba, bu Sam menatap ke arah jendela dan sepertinya tahu apa yg kulakukan, dia dengan refleks menutupi dadanya dengan mengatupkan ujung daster, lalu berbalik. Aduh, malunya aku. Diapun berlalu, ketika semua pakaian sudah berpindah dari ember.
Keesokan harinya, seperti biasa aku akan masuk ke rumah mereka, mengambil air es yg ada di kulkas. Aku berpapasan dgn bu Sam, sejenak ketakutan membayangi benakku.
“Ngapain om kemarin di balik jendela?”, tanyanya hampir berbisik. Dia memang memanggil semua penghuni kos dgn sebutan om, karena kedua anaknya memanggil kami demikian.
“Hmm…hmmm” , aku tentu tak bisa melanjutkan, gugup. Bagaimana kalau perempuan ini menamparku? Aku tak karuan.
Tapi dia berlalu lagi, masuk ke kamar dgn ekspresi wajah yg sulit kuprediksi. Aku masuk ke dapur, melalui sebuah lorong sepanjang 4 meter. Ruangan ini memang agak unik. Untuk menuju dapur, kita tidak melewati jalan yg cukup lapang, karena tembok kiri kanan hanya berjarak kira² 70cm. Entah apa maksudnya membuat bangunan seperti ini.
Di dapur, yg luas, aku kembali memikirkan ucapan bu Sam, namun akhirnya kubuang semua prasangka itu. Paling² diusir, pikirku. Akupun kembali hendak melewati lorong sempit itu, tapi…dari arah berlawanan bu Sam datang.
Kami berdua terjebak di pertengahan, kami harus memiringkan badan 90 derajat, hingga akhirnya berhadapan. Sempit sekali, kurasakan dada bu Sam menempel di dadaku. Darahku berdesir.
“Ibu…aa..aaku” , aku terbata-bata.
Entah setan apa yg tiba² merasukiku, kutahan tubuhnya dengan kedua telapak tanganku kutempel di dinding kiri dan kanan tubuhnya. Kami bertatapan lama sekali, aneh, kurasakan deru nafas bu Sam menjadi lebih cepat memenuhi wajahku.
“Jangan om..ntar ketauan”
“Ngga apa-apa bu, aku udah ngga tahanhh”, balasku.
Diapun pasti bisa merasakan penisku yg mengeras persis di bagian bawah pusarnya. Tanpa pikir panjang, kudekatkan bibirku ke lehernya, kuhisap perlahan, bu Sam seolah ingin memberontak, namun cengkeraman kedua tanganku di pundaknya membuatnya tak bisa bergerak kemana-mana.
Kujilati leher itu sepuasnya hingga akhirnya berpindah ke bibir indahnya, kulumat dgn berapi-api. Pada titik ini, aku sudah mulai bisa mendengar desahan bu Sam.
“Ommhhh..”, desisnya.
Tubuhku kuliukkan seperti huruf S supaya mulutku persis berada di belahan dadanya. Kubukai kancing dinas PNS nya, tersembullah payudara putih nan montok itu, dibalut bra berwarna hitam. Dgn gemas kuremas perlahan, hingga akhirnya semakin keras…
“Pelan-pelan om…”, bisiknya.
Kurenggangkan kedua kaki supaya posisiku lebih rendah darinya. Kusorong bra itu keatas hingga kedua payudaranya bebas menggelantung. Aku mulai menjilati puting sebelah kiri, sementara tangan kananku membelai-belai payudaranya sebelah kanan, lalu bergantian.
“Jangan dikasih tanda…”, mungkin maksudnya jangan ‘dicupang’, tentu saja aku mengerti.
Kuhisap, kujilat, kuremas, dan tanganku bergerilya ke dalam roknya. Kucari-cari vaginanya dan menggesek-gesek dgn jari, sesekali kumasukkan jari jauh ke dalam sana, ku-ubek² isinya lembut. Bu Sam tidak karuan, dia pasrah…
Perlahan namun pasti, vagina itu menjadi lembab dan basah. Bu Sam merem melek dgn kombinasi sentuhan-sentuhan itu. Suhu tubuhnya memanas, dan sama sepertiku, dia tak lagi peduli jika seandainya seseorang muncul di dapur, memergoki kami.
Kurogoh kantong celanaku, dari dompet kukeluarkan sebuah kondom, buru-buru kukeluarkan penisku yg sudah mengeras dan membungkusnya.
Sambil menghisap bibir bu Sam, kuangkat roknya dan menyibak celana dalamnya kesamping. Kuarahkan penisku kesana, mencoba mencari lubangnya sambil terus melumat bibir.
Ketemu…kumasukkan perlahan, sedikit demi sedikit penisku yg membesar memenuhi liang kenikmatan bu Sam. Liang yg hangat, basah, berdenyut, dan menjepit. Kusodok-sodok perlahan, makin lama makin capat, dan aku mengaduk-aduk isi vagina bu Sam membabi buta.
“Aduhhh…enaknyaa” , bu Sam berbisik jujur.
Rintihan, deru nafas, desahan, silih berganti memenuhi ruangan. Kami bertahan dengan satu posisi lama sekali karena kami tak punya pilihan gaya lain di lorong sesempit itu.
“Ohh…omm.. .enak bangetthh… “, rintih bu Sam sambil mencengkeram pinggangku keras sekali, kurasakan getaran hebat tubuhnya dan sesuatu di bawah sana menjadi sangat becek.
“Ayo om, dikeluarin, ntar Edo ama Ridho datang…ayo sayang…nih ibu bantu…”, bah…sejak kapan aku dianggap sayang. Bu Sam memang benar² membantu, diliuk-liukkannya pinggang, kurasakan batang penisku seperti dipijat, nikmat sekali…..!

Kudekap dia erat, penisku kukocok-kocok kencang dalam vaginanya hingga kurasakan aliran darahku berkumpul di satu titik, penisku, dan…
“Ahh…..”, aku berteriak tertahan menghunjamkan penisku keluar masuk vaginanya, kurasakan aliran hangat yg sangat nikmat keluar dari penisku dan memenuhi ruangan kondom yg lowong, menjadi penuh.

Aku lemas, masih kuciumi bibir dan dahi bu Sam sejurus kemudian tanpa mencabut penisku dari vaginanya.

Kubenahi bra, dan kukancingkan kembali bajunya. Dia masuk ke dapur, aku kembali ke kamarku, kami tak berkata sepatah katapun.

Hari ini, dia menjemur pakaian seperti biasa. Ajaib, dia tak menggunakan bra. Kuperhatikan juga lekuk pantatnya yg tidak menggambarkan segitiga, ah…dia juga tidak memakai celana dalam.

Aku berpura-pura keluar dari kamar, menuju dapur, kulihat dia kemudian mengikutiku. Di dapur itu, aku memangsanya habis-habisan, karena aku memberikannya layanan berbagai posisi.

Lucunya, setelah selesai, kami tak mengucapkan sepatah katapun, kubenahi bajunya, kucium bibirnya, dan aku berlalu. Dia berjalan ke kamarnya.
Di lain hari, ketika sedang menjemur, kutarik dia ke kamarku, tentunya setelah melihat kiri kanan aman. Kujatuhkan di kasur, kurenggangkan kedua pahanya, aku memberikan service oral sex yg menggelora, masih kuingat bagaimana dia menjambak rambutku dan wajahnya terlontar kesana kemari ketika dgn ganas lidahku menari-nari pada kelentitnya, kujilati, dan kuhisap vaginanya.

Sama, setelah dia kelelahan, dia akan keluar dari kamarku tanpa sepatah katapun, aku hanya tersenyum memandanginya menghilang di belokan. Aku senang membuatnya ketagihan…
Dua tahun aku melayaninya, yah aku sebut melayani, karena sebenarnya dialah yg lebih menikmati semua itu, aku belum menemukan sesuatu yg luar biasa darinya, pun begitu, aku sangat merindukannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar